September 2016
Dalam kehidupan sekarang ini, banyak kita dapatkan di sekeliling kita, kaum muslimin yang bermudah-mudah mencari jalan pintas mendapatkan harta, seperti mobil dan rumah, dengan melakukan transaksi riba. Padahal, pelaku riba mendapatkan ancaman dari Allah Ta’ala. Berikut ini kami sampaikan dua ayat dalam Al Qur’an tentang ancaman bagi pelaku riba, sebagai peringatan untuk kita semuanya.

Copyright image by. gentami.deviantart.com


Dibangkitkan dari Kubur dalam Keadaan Gila

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat) bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah [2]: 275)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas,”Maksudnya, tidaklah mereka berdiri (dibangkitkan) dari kubur mereka pada hari kiamat kecuali seperti berdirinya orang yang kerasukan dan dikuasai setan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/708)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan,”Para ulama berbeda pendapat tentang ayat ini. Apakah maksud ayat ini adalah mereka tidaklah bangkit dari kubur mereka pada hari kiamat kecuali dalam kondisi semacam ini, yakni bangkit dari kubur seperti orang gila atau kerasukan setan. Atau maksudnya adalah mereka tidaklah berdiri untuk bertransaksi riba (di dunia), (yaitu) mereka memakan harta riba seperti orang gila karena sangat rakus, tamak, dan tidak peduli. Maka ini adalah kondisi (sifat) mereka (pelaku riba) di dunia. Yang benar, jika sebuah ayat mengandung dua kemungkinan makna, maka ditafsirkan kepada dua makna tersebut semuanya.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 1/1907)

Allah akan Menghancurkan Harta Riba

Allah Ta’ala berfirman,

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al Baqarah [2]: 276)

Ini adalah hukuman di dunia bagi pelaku riba, yaitu Allah akan memusnahkan atau menghancurkan hartanya. “Menghancurkan” ini ada dua jenis:

Pertama, menghancurkan yang bersifat konkret. Misalnya pelakunya ditimpa bencana atau musibah, seperti jatuh sakit dan membutuhkan pengobatan (yang tidak sedikit). Atau ada keluarganya yang jatuh sakit serupa dan membutuhkan biaya pengobatan yang banyak. Atau hartanya terbakar, atau dicuri orang. Akhirnya, harta yang dia dapatkan habis dengan sangat cepatnya.

Ke dua, menghancurkan yang bersifat abstrak, yaitu menghilangkan (menghancurkan) berkahnya. Dia memiliki harta yang sangat berlimpah, akan tetapi dia seperti orang fakir miskin yang tidak bisa memanfaatkan hartanya. Dia simpan untuk ahli warisnya, namun dia sendiri tidak bisa memanfaatkan hartanya. (Lihat penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin di Syarh Riyadhus Shalihin, 1/580 dan 1/1907).

_____

Selesai disusun menjelang subuh, Masjid Nasuha Rotterdam, 10 Shafar 1436

Penulis: dr. M. Saifudin Hakim, MSc.

Artikel bersumber; Muslim.Or.Id


Siapa yang tak ingin punya usaha lancar, sukses dan berkembang sesuai dengan harapan, dibarengi keberkahan dalam hasil serta pengelolaannya. Sebut contoh dibidang jasa teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini. Namun pertanyaan-pun muncul seperti yang dialami Haryo Prabowo dikutip pengusahamuslim.com terkait "Jasa web hosting di dalam Islam".

Copyright image by. creativitykills.co


Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh

[1] Bagaimanakah hukum membuka bisnis jasa webhosting?

Pada bisnis ini, orang-orang kita berikan space (tempat) untuk menaruh datanya supaya bisa diakses di seluruh dunia via internet. Pada umumnya, orang banyak menyewa space untuk keperluan pribadi, maupun keperluan bisnisnya.

Yang jadi masalah, kadang ada yang menyalahgunakannya space yang disewa untuk keperluan yang menyelisihi syariat, seperti tempat upload file-file gambar dan video terlarang, mp3-mp3 musik (dan software curian), dsb. Apakah haram? karena kemungkinan penyalahgunaan tersebut, seperti dijelaskan di atas.

Apakah halal? karena yang disewakan tempatnya,penggunaan tergantung penyewa.

* Pertanyaan yang sama berlaku jg untuk bisnis jasa telekomunikasi (seperti: operator seluler), yang boleh dikatakan banyak dipakai keperluan pribadi yang mubah, dakwah, bisa juga dipakai pacaran, deal bisnis haram, dst.

[2] Andai sudah jalan bisnisnya, sebagai pengelola web hosting, apakah kita diperbolehkan untuk “mengintip” data-data yang dimiliki para penyewa, dengan tujuan memonitor file yang dititipkan kepada kita? Ataukah dibiarkan saja tidak dipantau, dengan acuan semua tanggung jawab
pemakaian space hosting adalah oleh penyewa?

* Pihak penyewa hampir bisa dipastikan akan keberatan jika diperiksa, dan secara adat dan bisnis hal ini tidaklah etis. Kalau di dunia nyata, analoginya seperti menyewakan kamar kost tetapi “mengintip” apa saja yang dilakukan penyewa.

[3] Andai sudah jalan, bagaimana langkah preventif yang sebaiknya dilakukan?

Apakah dari pihak pengelola bisnis cukup memberi halaman peraturan untuk tidak menyalahgunakan space hosting (halaman terms of service) sudah cukup?

Contoh: http://www.ardhosting.com/term_of_service.php

Ataukah tetap harus memonitor satu per satu setiap akun yang ada?

Best regards,

Haryo Prabowo
___

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Saudara Haryo Prabowo, semoga Allah melimpahkan kerahmatan dan keberkahan kepada anda sekeluarga.

Agama Islam yang anda cintai ini, telah mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa menjadi umat yang bersatu, bahu membahu, sehingga sebagian dari mereka turut merasakan penderitaan dan kebahagiaan saudaranya sesama muslim.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara.” (Qs. Al Hujuraat: 10)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak haditsnya juga menegaskan akan hal ini, diantaranya sebagaimana yang disebutkan pada hadits berikut:

عن النعمان بن بشير رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى. رواه مسلم

Dari sahabat Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu ia menuturkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perumpamaan kecintaan, kasih saying, dan bahu-membahu kaum mukminin bak satu tubuh, bila ada anggota tubuh itu yang menderita, niscaya anggota tubuh lainnya akan sama-sama merasakan susah tidur dan demam.” (Riwayat Muslim)

Imam An Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini amat tegas nan jelas menunjukkan akan betapa agungnya hak-hak sesama umat islam, dan menganjurkan agar mereka saling menyayangi, berlemah-lembut, saling membantu dalam hal-hal yang bukan merupakan perbuatan dosa atau hal-hal yang dibenci.” (Syarah Muslim, oleh Imam An Nawawi 16/139)

Pada hadits lainnya, beliau bersabda:

لا تحاسدوا ولا تناجشوا ولا تباغضوا ولا تدابروا ولا يبع بعضكم على بيع بعض وكونوا عباد الله إخوانا، المسلم أخو المسلم لا يظلمه ولا يخذله ولا يحقره. متفق عليه

“Janganlah engkau saling hasad, saling menaikkan penawaran barang (padahal tidak ingin membelinya), saling membenci, saling merencanakan kejelekan, sebagian dari melangkahi pembelian sebagian lainnya. Hendaknya kamu menjadi hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Setiap muslim adalah saudara muslim lainnya. Tidak layak baginya untuk menzhalimi saudaranyanya, dan tidak pula berdiam diri menyaksikan saudaranya dianiaya orang lain. Dan tidak layak pula baginya untuk meremahkan saudaranya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Pada hadits lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan gambaran yang lebih luas nan jelas tentang kepribadian yang seyogyanya dimiliki oleh setiap muslim.

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ. متفق عليه

“Seorang muslim yang sejati ialah orang yang seluruh umat Islam merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Saudaraku! seorang muslim yang sejati adalah orang yang selalu berusaha sekuat tenaga guna merealisasikan dan menyebar luaskan setiap kebaikan. Inilah yang mendasari Islam mensyari’atkan dakwah, amar ma’ruf dan nahi mungkar, dan mengharamkan atas para ulama’ perbuatan menyembunyikan ilmu.

مَنْ كَتَمَ عِلْماً يَعْلَمُهُ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَجَّماً بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ. رواه أحمد وغيره وصححه الألباني

“Barang siapa yang menyembunyikan ilmu yang telah ia kuasai, niscaya kelak pada hari kiamat ia akan dikekang dengan kekang dari api neraka.” (Riwayat Ahmad dan lainnya, dan hadits ini dinyatakan sebagai hadits shahih oleh Al Albani)

Sebagaiaman Islam juga mensyari’atkan kepada umatnya agar banyak-banyak bersedekah, membantu orang lain, dan lain sebagainya, sehingga mereka menjadi anggota masyarakat yang berguna, produktif dan senantiasa berlaku positif.

عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ، قِيلَ أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ يَعْتَمِلُ بِيَدَيْهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ، قَالَقِيلَأَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ؟ قَالَيُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ، قَالَ: قِيلَ لَهُ: أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ؟ قَالَ: يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ أَوِ الْخَيْرِ، قَالَ: أَرَأَيْتَ إِنْ لَمْ يَفْعَلْ؟ قَالَ: يُمْسِكُ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ. رواه متفق عليه

“Wajib atas setiap orang muslim untuk bersedekah.” Dikatakan kepada beliau: “Bagaimana bila ia tidak mampu?” Beliau menjawab: “Ia bekerja dengan kedua tangannya, sehingga ia menghasilkan kemanfaatan untuk dirinya sendiri dan (dengannya ia dapat) bersedekah.” Dikatakan lagi kepadanya: “Bagaiman bila ia tidak mampu juga?” Beliau menjawab: “Ia dapat membantu orang yang benar-benar dalam kesusahan.” Dikatakan lagi kepada beliau: “Bagaimana bila ia tidak mampu juga?” Beliau menjawab: “Ia memerintahkan yang ma’ruf atau kebaikan.” Penanya kembali berkata: “Bagaimana bila ia tetap saja tidak (mampu) melakukannya?” Beliau menjawab: “Ia menahan diri dari perbuatan buruk, maka sesungguhnya itu adalah sedekah.” (Muttafaqun ‘alaih)

Berdasarkan berbagai dalil ini dan juga dalil-dalil lainnya yang tidak saya sebutkan di sini, para ulama’ ahli fiqih menyatakan bahwa tidak dibenarkan bagi siapapun untuk mengadakan kegiatan atau amalan atau perniagaan yang dapat mengakibatkan keresahan, kemadharatan atau kerugian pada masyarakat banyak, baik kerugian dalam urusan agama atau urusan dunia mereka.

Dahulu para ulama’ ahli fiqih memfatwakan bahwa memperjual-belikan anggur kepada orang yang akan membuatnya sebagai minuman khamer, atau senjata pada waktu terjadi perang saudara antara umat Islam adalah haram. Walaupun anggur dan senjata adalah barang yang halal untuk diperjual-belikan, akan tetapi pada keadaan semacam ini para ulama’ mengharamkannya. Bukan karena para ulama’ merubah hukum anggur dan senjata dari halal menjadi haram. Akan tetapi fatwa itu bertujuan untuk mencegah terjadi kerusakan sosial dan agama masyarakat. (I’ilamul Muwaqi’in oleh Ibnul Qayyim 2/387, As Syarhul Mumti’ oleh Syeikh Ibnu Utsaimin  8/205-208, Majmu’ Fatawa Al Lajnah Ad Da’imah 13/30-76.)

Imam As Syafi’i berkata:

وأحب إلى له أن يحسن التوقي فلا يبيعه ممن يراه يتخذه خمرا

“Saya sangat menganjurkan kepada pemilik anggur agar bersikap waspada, sehingga ia tidaklah menjual anggurnya kepada orang yang diduga akan menjadikannya minuman khamer.” (Al Umm oleh Imam As Syafi’i 7/57)

Penjelasan Imam As Syafi’i ini selaras dengan hadits berikut:

لعن رسول الله  صلى الله عليه و سلم في الخمر عشرة: عاصرها ومعتصرها وشاربها وحاملها والمحمولة إليه وساقيها وبائعها وآكل ثمنها والمشتري لها والمشتراة له. رواه الترمذي وابن ماجة وصححه الألباني

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknati berkaitan dengan khomer sepuluh orang: Pemerasnya, orang yang meminta untuk diperaskannya, peminumnya, pembawanya (distributornya), orang yang dibawakan kepadanya, penuangnya (pelayan yang mensajikannya), penjualnya, pemakan hasil jualannya, pembelinya, dan orang yang dibelikan untuknya.” (Riwayat At Tirmizi dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Albany)

Penjelasan Imam As Syafi’i dan lainnya di atas, berlaku pula pada kasus saudara ini dan yang serupa misalnya pada penyewaan rumah, kendaraan atau lainnya. Saudara Haryo, anda adalah seorang mukmin, tentu menyadari bahwa saudara memiliki tanggung jawab iman dan tuntutan hati nurani sebagai seorang muslim untuk mencegah setiap kemaksiatan dan kemungkaran sebelum terjadi dan memeranginya setelah terjadi. Relakah bila ternyata harta kekayaan anda digunakan oleh orang, baik dengan melalui sewa atau lainnya untuk merusak agama saudara, mencemari pemikiran umat saudara dan bahkan mungkin juga keluarga anda.

Saudara Haryo! Coba anda bayangkan bila suatu hari anda memergoki buah hati, atau mungkin juga istri tercinta saudara sedang mengakses situs porno atau jaringan teroris atau yang serupa. Dan setelah anda usut, situs tersebut menggunakan jasa web hosting yang anda sewakan kepada salah satu pelanggan anda? Kira-kira apa perasaan saudara dan langkah apa yang akan saudara lakukan?

Pada kesempatan ini, saya merasa perlu untuk mengingatkan saudara-saudaraku seiman dan seakidah: Apapun perilaku anda terhadap saudara anda sesama muslim lainnya, niscaya anda akan mendapatkan balasan yang serupa. Bila sekarang anda tidak perduli dengan akibat dari perniagaan anda, maka orang lainpun akan memperlakukan anda dengan cara yang sama.

البِرُّ لاَ يَبْلَى وَالإِثْمُ لاَ يُنْسَى وَالدَّيَّانُ لاَ يَمُوتُ فَكُنْ كَمَا شِئْتَ كَمَا تَدِيْنُ تُدَانُ

“Kebajikan itu tak kan pernah lekang, dosa tak kan pernah terlupakan, dan Allah Yang Maha Kuasa tak kan pernah mati, karenanya berlaku sesukamu, karena sebagaimana engkau berperilaku, maka demikian pulalah engkau akan diperlakukan.”

Benar, dalam etika perniagaan zaman sekarang yang nota bene berkiblat kepada etika perniagaan dunia barat menganggap bahwa mengintip/mengawasi pelanggan web hosting tidak dapat diterima, akan tetapi akankah etika barat itu mengalahkan seruan iman dan tanggung jawab di hadapan Allah? Terlebih-lebih sebenarnya anda memiliki wewenang secara hukum perdata yang berlaku dimana saja, untuk mengawasi penggunaan layanan web hosting anda, karena anda telah menuangkannya kriteria/persyaratan anda dalam amar perjanjian sewa.

Menurut predeksi saya, anda telah menyesuaikan harga jual/sewa anda dengan mempertimbangkan berbagai persyaratan yang anda buat. Semakin banyak persyaratan anda, maka harganyapun semakin murah, dan semakin longgar persyaratan anda, maka harganyapun semakin mahala. Karenanya bila pelanggan anda melanggar persyaratan yang telah disepakati, berarti anda telah dirugikan. Bukan hanya kerugian di akhirat, bahkan di duniapun anda rugi.

Saudaraku! Coba anda bayangkan andai anda menyewakan satu rumah atau gedung kepada seseorang, dan anda telah mensyaratkan agar gedung itu tidak digunakan sebagai gereja atau diskotik. Ternyata di kemudian hari -tanpa seizin dari anda- penyewa menyalahi kesepakatan dan menjadikan rumah anda sebagai gereja atau tempas prostitusi, atau tempat perjudian, atau praktek aborsi dan yang serupa. Masihkan saudara akan berdalil dengan etika perniagaan barat ini dan mengorbankan perasaan dan tuntutan iman anda?

Sebagai solusinya, anda berhak memberikan teguran kepada pelanggan anda, dan bila ia tidak menggindahkan teguran anda, maka anda berhak memutuskan akad sewanya. Bila pemutusan ini tidak mungkin dilakukan karena suatu hal, maka untuk selanjutnya anda dapat menolak perpanjangan sewanya.

Ini yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat, wallahu a’alam bisshowab.

Wassalamu’alaikum warahmatullah

Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.